Alasan Trump Larang TikTok dan WeChat di AS

Nontonberita.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengeluarkan perintah eksekutif yang akan melarang transaksi antara Amerika Serikat dengan perusahaan China pemilik TikTok dan WeChat.

Trump mengatakan AS harus mengambil tindakan agresif untuk kepentingan keamanan nasional.

Namun, larangan terhadap WeChat adalah hal yang cukup mengejutkan. Pasalnya, Trump tidak pernah mengungkit akan memblokir platfom tersebut.
Melansir The Guardian, larangan terhadap WeChat terkait dengan kurangnya transparansi terkait data pengguna, privasi, dan keamanan. AS melihat data milik warga AS yang berkomunikasi dengan teman dan keluarga di China, serta melakukan transaksi bisnis dan beriklan bisa disalahgunakan.

Warga AS menggunakan WeChat untuk berkomunikasi dengan keluarga dan relasi di China. WeChat juga digunakan oleh warga AS untuk membuat bisnis dengan China dan beriklan. Sebab, sebagian besar aplikasi barat seperti Facebook, Twitter, dan WhatsApp dilarang di negara itu.

Seperti banyak aplikasi lain yang berasal dari Tiongkok, WeChat juga dituduh secara aktif menyensor konten yang dianggap merugikan pemerintah China sambil mempromosikan propaganda lokal dan luar negeri.

Akan Diblokir Trump, Seberapa Populer Tiktok di Amerika? | Lancang Kuning
Keputusan Trump Blokir Tiktok do AS

WeChat adalah platform media sosial buatan dan paling populer di China. Pada 2018, pengguna WeChat sudah lebih dari 1 miliar. Aplikasi itu dimiliki oleh Tencent Holdings Ltd.Di China, orang-orang menggunakan WeChat berbagai hal, mulai dari komunikasi, pembayaran elektronik, perbankan, pemesanan kendaraan, dan belanja online Selama pandemi, aplikasi itu berkolaborasi dengan pemerintah China dalam mendeteksi orang yang harus dikarantina atau tidak.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan TikTok dan perusahaan perangkat lunak China lainnya yang beroperasi di AS seperti WeChat telah memberikan data pribadi warga AS kepada Partai Komunis China.Pompeo mengatakan data pribadi warga AS yang dikumpulkan oleh perusahaan seperti TikTok “bisa berupa pola pengenalan wajah, informasi tempat tinggal, nomor telepon
TikTok telah membantah bahwa data pengguna tidak disimpan di China dan mengatakan bahwa otoritas China tidak memiliki akses ke informasi pribadi pengguna.

Aplikasi seluler TikTok telah diunduh sekitar 175 juta kali di AS dan lebih dari satu miliar kali di seluruh dunia.

Diusir AS, TikTok Bikin Pusat Data Baru di Eropa

TikTok mengumumkan rencana untuk membangun pusat data baru di Irlandia untuk pengguna Eropa, usai bisnisnya dijegal pemerintah Amerika Serikat.

Pusat data baru senilai US$498 juta atau Rp7,3 triliun bakal menampung data pengguna di Eropa. Pasalnya, Rencana Microsoft untuk membeli TikTok tidak berlaku untuk pengguna Eropa. Sehingga TikTok mesti membangun pusat data baru bagi pengguna di benua itu.

Saat ini, TikTok menyimpan semua data penggunanya di server yang ada di Amerika Serikat. Data itu dicadangkan pada pusat data di Singapura. Pusat data TikTok di Irlandia kemungkinan akan beroperasi pada tahun 2022.

Melansir Business Insider, pengumuman itu muncul setelah perintah luar biasa dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa TikTok harus menjual bisnisnya di AS paling lambat 15 September atau menghadapi pemblokiran aplikasi di AS. 

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com