Megawati: Awalnya Saya Ditertawakan, Karena Dinilai Tidak Bisa Apa-Apa

Megawati Awalnya Saya Ditertawakan, Karena Dinilai Tidak Bisa Apa-Apa

nontonberita.com – Megawati Awalnya Saya Ditertawakan, Karena Dinilai Tidak Bisa Apa-Apa – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengaku selalu ditertawakan saat awal-awal menjadi seorang pimpinan partai politik.

Megawati menyampaikan hal itu saat menyampaikan orasi ilmiah di hadapan mahasiswa-mahasiswi Universitas Soka, Tokyo, Jepang, Rabu (8/1/2020), usai dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (DR HC) dari Universitas Soka.

Megawati: Awalnya Saya Ditertawakan, Karena Dinilai Tidak Bisa Apa-Apa
Megawati: Awalnya Saya Ditertawakan, Karena Dinilai Tidak Bisa Apa-Apa

 

Kepada para mahasiswi Universitas Soka, dia meminta untuk berani mengambil keputusan sama halnya dengan pria. Putri Soekarno itu bercerita bagaimana awal mula menjadi seorang pimpinan partai politik.

“Saya selalu ditertawakan ketika waktu menjadi pimpinan partai, karena perempuan (dinilai) tidak bisa apa-apa,” ucap Megawati.

Megawati Awalnya Saya Ditertawakan, Karena Dinilai Tidak Bisa Apa-Apa

Menurut dia, perempuan juga harus memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Termasuk memiliki hak politik yang sama. Tidak hanya menjaga rumah tangga, memasak, dan menyapu.

“Tetapi saya mengatakan pada diri saya sendiri. Seorang perempuan itu berbeda dengan lelaki. Perempuan lebih pintar, lebih cerdas, dan dia bisa menjadi ibu yang mencintai anak-anaknya,. Tetapi juga ia bisa berpolitik,” tutur Presiden ke-lima RI ini.

Perempuan, lanjut dia, harus berani mengambil kesempatan dan peluang. Bahkan, tidak takut untuk terjun berpolitik. Karena langkah beraninya, dari yang ditertawakan, Megawati pun menjadi perempuan pertama menjadi presiden.

“Akibatnya saya menjadi presiden pertama perempuan. Bukan di Indonesia saja, mungkin juga di belahan Asia Tenggara. Jadi jangan malu-malu. Yang cantik-cantik. Yang perempuan harus mengucap, saya tidak akan kalah dengan laki-laki,” ungkap Megawati.

Pancasila Falsafah Kemanusiaan

Selain menyampaikan pengalamannya, dia juga berorasi mengenai Pancasila yang dinilainya adalah sebagai falsafah kemanusiaan. Karena, nilai-nilai di dalamnya bisa dilaksanakan secara universal, dalam artian bisa digunakan secara internasional menghadirkan nilai kemanusiaan dalam wujud perdamaian dunia.

Menurut Megawati, kemanusian adalah nilai yang tidak pernah usang. Meski terkadang dipinggirkan dan dilupakan dalam kehidupan, namun kemanusiaan akan selalu ada.

“Kemanusiaan sejatinya selalu melekat pada diri setiap manusia. Manusia yang benar-benar manusia adalah manusia yang berperikemanusiaan,” kata Megawati.

Dia mengatakan, kemanusiaan itulah yang menjadi syarat mutlak perdamaian dunia. Dan gagasan ini sejalan dengan pidato Bapak Bangsa Indonesia di Sidang Umum PBB 30 September 1960 yang berjudul ‘To Build The World Anew’.

Saat itu, Bung Karno menyampaikan tugas sejarah membangun dunia kembali. Dan dunia yang dibangun manusia adalah dunia yang bebas dari penindasan, bebas dari kemiskinan, bebas dari rasa takut, bebas secara konstruktif untuk menggerakkan aktivitas sosial, dan bebas mengeluarkan pendapat.

Dalam konteks itu juga Indonesia merumuskan Pancasila sebagai falsafah kemanusiaan, yang menjadi ideologi serta jalan hidup.

Substansi Pancasila yang pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa, meliputi manusia yang memeluk berbagai agama dan keyakinan, yang berke-Tuhanan dengan cara beradab, saling menghormati antara pemeluk agama dan kepercayaan manapun.

Kedua, nasionalisme, yaitu semangat patriotisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa.

“Nasionalisme dalam Pancasila adalah perikemanusiaan. Seorang nasionalis cinta kepada bangsanya dan semua bangsa, karena percaya setiap bangsa penting bagi dunia,” kata Megawati.

Prinsip ketiga adalah internasionalisme. Nasionalisme tidak bisa dipisahkan dari internasionalisme. Sebab nasionalisme tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa internasionalisme. Maka, internasionalisme sejati adalah wujud dari nasionalisme sejati, yang menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa, baik besar maupun kecil.

Prinsip keempat adalah Demokrasi Pancasila yang mengandung tiga unsur pokok, yaitu. Yaitu perwakilan, musyawarah, dan mufakat. Musyawarah untuk mufakat adalah merupakan suatu upaya yang teguh untuk mencari kesepakatan yang lebih kuat dan lebih baik daripada suatu resolusi yang dipaksakan, yang mengatasnamakan “suara mayoritas”.

Empat prinsip Pancasila di atas mengerucut pada prinsip kelima, yang merupakan tujuan akhir. Yaitu keadilan sosial yang berwajah dan bernilai kemanusiaan.

“Kemanusiaan yang berwujud dalam adil dan makmur, bebas dari penindasan dalam bentuk apapun, bagi siapapun, di belahan bumi mana pun,” tegasnya.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *