Suara Petani Brebes Usai Harga Bawang Merah Jatuh

Suara Petani Brebes Usai Harga Bawang Merah Jatuh

NontonBerita.Com Suara Petani Brebes Usai Harga Bawang Merah Jatuh. Apalagi yang ditunggu-tunggu petani bawang merah jika bukan masa panen raya. Berbulan-bulan bersimbah keringat, saat yang ditunggu pun tiba.

Namun, panen raya bawang merah di Brebes tahun 2018 ini disambut muram petani. Bukan lantaran hasilnya tak memuaskan. Sebaliknya, tahun ini panen benar-benar melimpah ruah.

Dari lahan seluas 5.800 hektare, Brebes menghasilkan sekitar 70 ribu ton bawang merah. Cuaca kering tahun ini mendukung produktivitas yang tinggi.

Awalnya, mereka semringah ketika mendapati dari satu hektare lahan mampu menghasilkan 12 ton bawang merah. Namun, perlahan senyum merdup dan wajah pun berubah muram.

Panen yang yang terjadi di Brebes rupanya berbarengan dengan panen di daerah lain, mulai dari Jawa Timur, daerah lain di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga luar Jawa. Harga bawang merah pun jatuh.

Normalnya, harga bawang berkisar Rp 15 ribu dari petani. Akan tetapi, lantaran suplai berlebih ke pasar, harga bawang hanya Rp 7.000 per kilogram.

“Kemarin paling rendah di awal September titik terendah itu mencapai Rp 7.000 per kilogram di Brebes. Namun, di daerah lain ada yang Rp 6.000,” kata Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Brebes, Juwari, Kamis, 1 November 2018.

Jatuhnya harga bawang nyaris selalu terulang dari tahun ke tahun. Dia pun khawatir, harga akan kembali jatuh pada Desember-Januari nanti saat bawang merah kembali panen serentak.

“Sekarang, alhamdulillah lumayan Rp 15 ribu. Tapi kalau panen raya lagi ya anjlok lagi,” ujarnya.

Panen raya September-Oktober kemarin harga sempat jatuh dan menyebabkan petani merugi. Tentu, petani tak ingin terjembab nasib serupa pada panen esok.

Dia menjelaskan, bawang merah adalah tanaman musiman. Petani cenderung mencari waktu yang paling bagus untuk menanam bawang.

Musim paling baik menanam bawang merah adalah saat musim kemarau. Petani biasa menanam bawang merah pada Juli atau Agustus. Dengan begitu, panen raya tiba di bulan September-Oktober.

Panen bersamaan itu membuat pasar overload atau kelebihan pasokan. Harga bawang merah pun turun drastis, lebih dari separuh harga normal.

“Memang bisa dijadwal agar tidak tanam serentak, tapi masalahnya bawang merah memang lebih baik ditanam pada musim kemarau,” dia menerangkan.

Sebaliknya, pada musim penghujan, jarang petani yang mau menanam bawang merah. Sebab, produktivitasnya hanya separuh panen normal.

Kalau pun ada yang nekat menanam, hasilnya hanya separuh dari produksi normal. Cekaman cuaca dan hama penyakit menyebabkan bawang merah di musim hujan tak bisa berproduksi maksimal.

“Paling enam ton per hektare,” ujarnya.

Akibatnya, terjadi kelangkaan bawang merah di pasaran. Harga pun naik berlipat-lipat, dengan harga tertinggi mencapai Rp 25 ribu per kilogram di tingkat petani.

Sebab itu, ia mengusulkan agar pemerintah melalui Bulog menyerap bawang merah dari petani yang saat panen raya. Dengan begitu, harga bawang merah tak sampai jatuh.

Bawang merah serapan di masa panen raya itu lantas digelontorkan ke pasar saat terjadi kelangkaan pasokan. Biasanya, bawang merah langka sekitar Februari hingga Maret.

Juwari mengemukakan sebenarnya Bulog bisa saja menyerap bawang dari petani. Sebab, penyerapan barang kebutuhan seperti bawang merah dan sebagainya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96.

Namun, ternyata peraturan menteri tersebut tak dilanjutkan dengan surat perintah penyerapan maupun pembelian bawang merah dari petani. Akibatnya, petani pun merana.

Alih-alih mengimpor bawang merah, dia menilai pemerintah lebih baik menyerap bawang merah dari petani di musim panen raya. Dengan begitu, yang mendapat untung adalah petani di negeri sendiri.

 

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *